Sunday, April 5, 2015

MAKALAH TENTANG ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di zaman modern ini, berjalan beriringan dengan semaraknya globalisasi dan kapitalisme global, ketimpangan sosialpun semakin kentara. Kemoderenan yang menuntut rasa individualitas, yang akhirnya menyebabkan rasa acuh pada problem-problem sosial. Hal ini menyebabkan adanya kecemburuan sosial yang berimplikasi pada tindakan kriminal. Dan tidak hanya itu saja yang menjadikan orang untuk melakukan tindakan kriminal.




Dilihat melalui kacamata akhlak Islam, tindakkan kriminalitas ialah tindakan yang timbul karena adanya penyakit jiwa pada diri manusia, penyakit yang seperti apakah itu? Memang terlihat aneh dan lucu, ketika dua hal yang memiliki epistemologi yang berbeda sisi yang berbeda adalah ketika kita berbicara modern yang cenderung menggunakan rasional dan fakta empiris dengan akhlak di mana di dalamnya berbicara tentang jiwa manusia(bersifat metafisik). Saat ini, keberadaan etika sangat diperlukan. Bahkan dinyatakan oleh K. Bartens dalam bukunya yang berjudul ’Etika’, saat ini etika sedang naik daun. Masyarakat yang semakin plural, meliputi berbagai suku, bangsa, bahasa, ideologi dan sebagainya. Mereka masing-masing membawa norma-norma moral yang berlainan satu sama lain.

Kesatuan tatanan moral hampir tak ada lagi. Kondisi ini diperparah dengan gelombang globalisasi dan modernisasi yang tiada henti. Gelombang modernisasi telah merasuk ke segala penjuru dan pelosok tanah air. Berbagai perubahan dalam masyarakat pun terjadi. Baik dalam penggunaan teknologi yang semakin canggih, maupun cara berfikir masyarakat pun berubah secara radikal.

Rasionalisme, individualisme, sekularisme, kepercayaan akan kemajuan, konsumereisme, pluralisme religius serta sistem pendidikan secara hakiki mengubah budaya dan rohani di Indonesia. Perubahan demi perubahan tersebut pun banyak dimanfaatkan oleh orang lain yang ingin memancing diair keruh. Mereka menawarkan ideologi-ideologi mereka sebagai obat penyelamat. Melihat kondisi tersebut, etika akan membantu kita agar tak kehilangan orientasi dan mengambil sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan. Etika juga membantu kita menghadapi ideologi-ideologi, yang mengaku sebagai penyelamat itu, secara kritis dan objektif.

Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebehagiaan yang ingin dicapai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagiaan tersebut.

Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.

Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.
        
B.    RUMUSAN

Masalah yang akan dikaji, yaitu sebagai berikut:
1.      Menjelaskan pengertian etika, moral dan akhlak?
2.      Apa hubungan tasawuf dan akhlak?
3.      Bagaimana dalam ajaran islam memelihara terhadap sifat terpuji dan ada ciri-ciri akhlak islamiyah?
4.      Menggambarkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari?

C.     TUJUAN

Terbentuknya etika, moral dan akhlak dalam perilaku individu dan kolektif seluruh umat islam yang menunjukkan keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.



D.    MANFAAT

1.      Kita dapat mengetahui apa itu etika, moral dan akhlak sesuai dengan pandangan ajaran Islam.
2.      Kita dapat mengetahui hubungan tasawuf dengan akhlak.
3.      Dapat menggambarkan etika, moral dan akhlak dalam ruang lingkup.
4.      Menjadi mahkluk yang bermoral yang hidupnya penuh dengan nilai-nilai atau norna-norma etika, moral dan akhlak.
 BAB II
PEMBAHASAN

A.    KONSEP ETIKA, MORAL DAN AKHLAK

Dalam berbagai literature tentang ilmu akhlak islami, dijumpai uraian tentang akhlak yang secara garis besar dapat dibagi dua bagia, yaitu; akhlak yang baik (akhlak al-karimah), dan akhlak yang buruk (akhlak madzmumah). Berbuat adil, jujur, sabar, pemaaf, dermawan dan amanah misalnya termasuk dalam akhlak yang baik. Sedangkan berbuat yang dhalim, berdusta, pemarah, pendendam, kikir dan curang termasuk dalam akhlak yang buruk.
Secara teoritis macam-macam akhlak tersebut berinduk pada tiga perbuatan yang utama, yaitu hikmah (bijaksana), syaja'ah (perwira/ksatria) dan iffah (menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat).
Hukum-hukum akhlak ialah hokum-hukum yang bersangkut paut dengan perbaikan jiwa (moral); menerangkan sifat-sifat yang terpuji atau keutamaan-keutamaan yang harus dijadikan perhiasan atau perisai diri seseorang seperti jujur, adil, terpercaya, dan sifat-sifat yang tercela yang harus dijauhi oleh seseorang seperti bohong, dzalim, khianat. Sifat-sifat tersebut diterangkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dan secara Khusus dipelajari dalam Ilmu Akhlak (etika) dan Ilmu Tasawuf.
Secara substansial etika, moral dan akhlak memang sama yakni ajaran tentang kebaikan dan keburukan, menyangkut perikehidupan manusia dalam hubungannya dengan tuhan, sesama manusia dan alam dalam arti luas. Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah ukuran kebaikan dan keburukan itu sendiri.
Ada   dua   pendekatan   untuk   mendefenisikan   akhlak,   yaitu   pendekatan linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Akhlak   berasal dari bahasa arab yakni  khuluqun    yang menurut loghat diartikan:   budi  pekerti, perangai,   tingkah   laku   atau   tabiat.   Kalimat   tersebut   mengandung   segi-segi persesuaian denga perkataan khalakun yang berarti kejadian, serta erat hubungan dengan khaliq yang berarti pencipta dan makhluk yang berarti diciptakan.
Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk. Secara terminologi kata "budi pekerti" yang terdiri dari kata budi dan pekerti. Budi adalah yang ada pada manusia, yang berhubungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio atau character. Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh hati, yang disebut behavior. Jadi budi pekerti adalah merupakan perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang termanifestasikan pada karsa dan tingkah laku manusia.
Sedangkan secara terminologi akhlak suatu keinginan yang ada di dalam jiwa yang akan dilakukan dengan perbuatan tanpa intervensi akal/pikiran. Menurut Al Ghazali akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah tanpa banyak pertimbangan lagi. Sedangkan sebagaian ulama yang lain mengatakan akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam didalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul disetiap ia bertindak tanpa merasa sulit (timbul dengan mudah) karena sudah menjadi budaya sehari-hari. Defenisi akhlak secara substansi tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak,yaitu:
Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang,sehinggatelahmenjadikepribadiannya.
Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini berarti bahwa saat melakuakan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur dan gila.
Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinila ibaik atau buruk.
Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengansesunggunya, bukan main-main atau karena bersandiwara
Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan karena dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. Disini kita harus bisa membedakan antara ilmu akhlak dangan akhlak itu sendiri. Ilmu akhlak adalah ilmunya yang hanya bersifat teoritis, sedangkan akhlak lebih kepada yang bersifat praktis.
Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan menjadi ukuran baik dan buruknya adalah akal karena memang etika adalah bagian dari filsafat. Dan etika merupakan sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu system tata nilai masyarakat tertentu.
Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan ata adat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak(moral). Selain akhlak kita juga lazim menggunakan istilah etika. Etika merupakan sinonim dari akhlak. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni ethos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan yang dimaksud kebiasaan adalah kegiatan yang selalu dilakukan berulang-ulang sehingga mudah untuk dilakukan seperti merokok yang menjadi kebiasaan bagi pecandu rokok. Sedangkan etika menurut filasafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Etika membahasa tentang tingkah laku manusia. Ada orang berpendapat bahwa etika dan akhlak adalah sama. Persamaan memang ada karena kedua-duanya membahas baik dan buruknya tingkah laku manusia. Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran (kriteria) yang berlainan. Apabila kita menlusuri lebih mendalam, maka kita dapat menemukan secara jelas persamaan dan perbedaan etika dan akhlak. Persamaan diantara keduanya adalah terletak pada objek yang akan dikaji, dimana kedua-duanya sama-sama membahas tentang baik buruknya tingkah laku dan perbuatan manusia. Sedangkan perbedaannya sumber norma, dimana akhlak mempunyai basis atau landasan kepada norma agama yang bersumber dari hadist dan al Quran. Para ahli dapat segera mengetahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbutaan yang dilakukan oleh manusia. Kedua, dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran dan filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutla, absolut dan tidak pula universal. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, terhina dsb. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-rubah sesuai tuntutan zaman.
Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia moral diartikan dengan susila. Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar. Antara etika dan moral memang memiliki kesamaan. Namun, ada pula berbedaannya, yakni etika lebih banyak bersifat teori, sedangkan moral lebih banyak bersifat praktis. Menurut pandangan ahli filsafat, etika memandang tingkah laku perbuatan manusia secara universal (umum), sedangkan moral secara lokal. Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu.
Namun demikian, dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbutan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam pembicaran moral tolak ukur yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Istilah moral senantiasa mengaku kepada baik buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Inti pembicaraan tentang moral adalah menyangkut bidang kehidupan manusia dinilai dari baik buruknya perbutaannya selaku manusia. Norma moral dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap dan tindakan manusia, baik buruknya sebagai manusia.
Adapun moral adalah ajaran baik dan buruk yang ukurannya adalah tradisi yang berlaku disuatu masyarakat. Seseorang dianggap bermoral kalau sikap hidupnya sesuai dengan tradisi yang berlaku dimasyarakat tempat ia berada, dan sebaliknya seseorang dianggap tidak bermoral, jika sikap hidupnya tidak sesuai dengan tradisi yang berlaku dimasyarakat tersebut. Dan memang menurut ajaran Islam pada asalnya manusia adalah makhluk yang bermoral dan etis. Dalam arti mempunyai potensi untuk menjadi makhluk yang bermoral yang hidupnya penuh dengan nilai-nilai atau norma-norma.
Sedang kata akhlak secara bahasa berarti budi pekerti, perangai atau disebut juga sikap hidup, adalah ajara yang berbicara tentang baik dan buruk yang ukurannya adalah wahyu tuhan. Secara terminology akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan buruk, terpuji dan tercela, menyangkut perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin.
Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Sejalan dengan itu Al-Gazali menyebutkan bahwa akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbuk perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan pikiran. Jadi yang menjadi ukuran akhlak adalah kondisi hati.

  1. Perbedaan antara Etika, Moral dan Akhlak

Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu.
Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :

“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”(Hadits riwayat Ahmad).

Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah akumulasi dari aqidah dan syari’at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syari’at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari’at Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah.

  1. Akhlak kepada Allah, Sesama manusia, dan Lingkungan.

a.   Akhlak kepada Allah

a.   Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.
b.   Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
c.   Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.
d.   Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
e.   Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

b.   Akhlak kepada Sesama Manusia

a.   Akhlak kepada Diri Sendiri
(1) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
(2) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
(3) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain
.
b.   Akhlak kepada Ibu dan Bapak
Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain: menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.

c.   Akhlak kepada Keluarga
Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komuniksai. Komunikasi yang didorong oleh rasa kasih sayang yang tulus akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Apabila kasih sayang telah mendasari komunikasi orang tua dengan anak, maka akan lahir wibawa pada orang tua. Demikian sebaliknya, akan lahir kepercayaan orang tua pada anak oleh karena itu kasih sayang harus menjadi muatan utama dalam komunikasisemua pihak dalam keluarga.
Dari komunikasi semacam itu akan lahir saling keterikatan batin,keakraban, dan keterbukaan di antara anggota keluarga dan menghapuskan kesenjangan di antara mereka. Dengan demikian rumah bukan hanya menjadi tempat menginap, tetapi betul-betul menjadi tempat tinggal yang damai dan menyenangkan, menjadi surga bagi penghuninya. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya.

c.   Akhlak kepada Lingkungan
Misi agama Islam adalah mengembangkan rahmat bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada alam dan lingkungan hidup. Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi,yaitu sebagai wakil Allah yang bertugas mamakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlak kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.

B.     HUBUNGAN TASAWUF DENGAN AKHLAK

Tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada tuhan (Allah SWT) dengan cara mensucikan hati. Hati yang suci bukan hanya dekat kepada tuhan malah dapat melihat tuhan. Dalam tasawuf disebutkan bahwa tuhan yang maha suci tidak dapat didekati kecuali hati yang suci.
Kalau ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik mana yang buruk juga bagaimana merubah akhlak buruk menjadi akhlak baik secara zahiriyah yakni dengan cara-cara yang nampak seperti keilmuan, keteladanan, pembiasaan dan lain-lain. Maka ilmu tasawuf menerangkan bagaimana mensucikan hati, setelah hatinya suci yang muncul dari perilakunya adalah akhlak yang mulia. Perbaikan akhlak menurut tasawuf berawal dari penyucian hati dan orang yang melakukan penyucian hati disebut sufi sedang ajarannya adalah tasawauf.
Pada dasarnya akhlak adalah aktualisasi ajaran Islam secara keseluruhan. Dalam kacamata akhlak tidaklah cukup iman seseorang dalam bentuk penggakuan apalagi hanya dalam bentuk pengetahuan. Yang kaffah adalah iman, ilmu dan amal. Amal itulah yang dimaksud akhlak.
Memperhatikan tujuan global diatas, maka kita dapat menggambarkan ruang lingkup ajaran akhlak, yaitu akhlak terhadap diri sendiri, At-Taubah (kemblai kepada Tuhan), Al-Muraqabah (kesadaran diri bahwa tuhan mengintai kita), Al-Muhasabah (selalu antropeksi terhadap diri sendiri), Al-Mujahadah (terus menerus mendekati Tuhan). Akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap kalam Allah (Al-Kitab), akhlak terhadap Rasulullah SAW, akhlak terhadap sesama manusia, meliputi kepada orang tua, kepada anak, istri, kerabat, tetangga, sesama muslim, etika kepada orang kafir, kepada binatang dan kepada alam semesta.

C.    INDIKATOR MANUSIA BERAKHLAK

Manusia berakhlak adalah manusia yang suci dan sehat hatinya sedang manusia yang tidak berakhlak adalah manusia yang kotor dan sakit hatinya. Namun sering kali manusia tidak sadar kalau hatinya sakit. Kalau pun ia sadar tentang kesakitan hatinya, ia tidak berusaha untuk mengobatinya. Padahal penyakit hati jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik.
Indikator manusia berakhlak kata Al-Gazali adalah tertanamnya iman dan hati. Sebaliknya manusia yang tidak berakhlak adalah manusia yang ada nifaq di dalam hatinya. Nifaq artinya sikap mendua terhadap tuhan, tidak ada kesesuaian antara hati dan perbuatan. Iman bagaikan akar bagi sebuah tumbuhan, sebuah pohon tidak akan tumbuh pada akar yang rusak dan keropos. Sebaliknya sebuah pohon akan baik tumbuhnya bahkan berbuah jika akarnya baik. Amal akan bermakna jika berpangkal pada iman, tetapi amal tidak akan membawa makna apa-apa apabila tidak berpangkal pada iman. Demikian juga amal tidak bermakna apabila amal tersebut didalamnya ada pelita yang bersinar dan hati orang kafir itu hitam dan malah terbalik. Taat akan perintah Allah SWT, juga tidak mengiktui keinginan syahwat dapat mengkilaukan hati, sebaliknya melakukan dosa dan maksiat dapat menghitamkan hati. Barang siapa yang melakukan dosa, hitamlah hatinya dan barang siapa yang melakukan dosa dan menghapusnya dengan kebaikan tidak akan gelaplah hatinya hanya cahaya itu berkurang.

D.    AKHLAK DAN AKTUALISASINYA DALAM KEHIDUPAN

Perbaikan akhlak merupakan bagia dari tujuan pendidikan Islam, pendidikan yang hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual telah gagal membawa manusia dalam pemungsian dirinya sebagai khalifah fil al-ardi. Sejak awal seorang Socrates telah mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah kebaikan sifat dan budi, yaitu kasih sayang dan kerelaan. Tujuan nyata dari pendidikan adalah warisan sosial dari suku bangsa sejenis. Berbicara masalah yang sama Al-Gazali menyatakan, bahwa penyesuaian diri tidak sekedar dijalankan terhadap norma masyarakat, tetapi tehadap norma tuhan. Al-Gazali selanjutnya mengutarakan bahwa tujuan pendidikan secara individual ialah membersihkan hati dari godaan nafsu dan amanah, hingga ia jernih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya tuhan. Mendidik itu sama dengan pekerjaan peladang membuang duri dan mencabut rumput yang tumbuh diantara tanaman-tanaman agar segar dan subur tumbuhnya.
Didalam hati yang bersih, iman tumbuh dan berkembang. Ia menebarkan cahaya keseluruh anggota badan lahir batin. Kalau indicator manusia berakhlak adalah manusia yang tertanam didalam hatinya iman yang kokoh, maka tasawuf adalah upaya bagaimana kait-kiat agar iman itu istiqamah dan tetap kokoh.
E.     AKHLAK ISLAM DALAM KAITANNYA DENGAN STATUS PRIBADI

1.      Sumber dan Ciri Akhlak Islam
Persoalan Akhlak didalam islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-qur`an dan Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji atau tercela, benar atau salah. Kita telah mengetahui bahwa Akhlak islam merupakan system moral/Akhlak yang berdasarkan islam, yakni bertitik tolak dari Aqidah yang diwahyukan Allah pada nabi/Rasulnya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Dalam ajaran islam memelihara terhadap sifat terpuji dan ada cirri-ciri Akhlak islamiyah yaitu:
1.      Kebajikan yang mutlak
Islam menjamin kebajikan mutlak karena islam telah menciptakan akhlak yang luhur. Ia menjamin kebajikan yang murni baik untuk perorangan atau masyarakat pada setiap keadaan, dan waktu bagaimanapun. Sebaliknya akhlak atau etika yang diciptakan manusia, tidak dapat menjamin kebajikan dan hanya mementingkan diri sendiri.
2.      Kebaikan yang menyeluruh
Akhlak islami menjamin kebaikan untuk seluruh umat manusia, baik segala jaman, semua tempat, mudah karena tidak mengandung kesulitan dan tidak mengandung perintah berat yang tidak dikerjakan oleh umat manusia diluar kemampuannya.
3.      Kemantapan
Akhlak islamiyah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia. Ia bersifat tetap, langgeng dan mantap. Sebab yang menciptakannya adalah Tuhan yang bijaksana yang selalu memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak.
4.      Kewajiban yang dipatuhi
Akhlak yang bersumber dari agama islam wajib ditaati manusia. Sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahit\r batin dan dalam keadaan suka dan duka, juga tunduk pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya juga sebagai perangsang untuk berbuat kebaikan yang diiringi dengan pahala dan mencegah perbuatan jahat karena takut akan siksaan Allah.
5.      Pengawasan yang menyeluruh
Agama islam adalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat, islam menghargai hati nurani bukan dijadikan tolak ukur dalam menetapkan beberapa usaha.

Berikut ini kami jelaskan Akhlak Islami yang mengatur dan membatasi kedudukan (status) pribadi, antara lain:
1.      Hamba Allah
2.      Anak
3.      Ayah dan ibu
4.      Anggota masyarakat
5.      Jama`ah
6.      Da`i/muballigh
7.      Pemimpin.

2.      Pribadi Sebagai Hamba Allah

a.       Malu
Malu (al-haya`) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik, dia akan terlihat gugup, atau mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, akan melakukannya dengan tenang tanpa ada rasa gugup sedikitpun.
  Sifat malu adalah akhlak yang terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran islam. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak islam itu adalah malu. (HR. Malik).

  Rasa malu adalah sumber utama kebaikan dan unsure kemuliaan dalam setiap pekerjaan. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Kekejian itu selalu membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala sesuatu menjadi bagus. (HR.Tirmidzi).

Sifat malu dapat dibagi kepada kepada tiga jenis.
1.      Malu kepada Allah.
2.      Malu kepada diri sendiri
3.      Malu kepada orang lain.
Seseorang akan malu kepada Allah apabila dia tidak mengerjakan perintah-Nya, tidak menjauhi larangan-Nya, serta tidak mengikuti petunjuknya. Orang yang malu terhadap Allah, dengan sendirinya akan malu terhadap dirinya sendiri. Ia malu mengerjakan perbuatan salah sekalipun tidak ada orang lain yang melihat atau mendengarnya. Penolakan datang dari dalam dirinya sendiri. Ia akan mengendalikam hawa nafsunya dari keinginan-keinginan yang tidak baik. Setiap keinginan untuk mengerjakan perbuatan yang rendah muncul, ia tertegun, tertahan, dan akhirnya membatalkan keinginan tersebut. Setelah malu pada dirinya sendiri, dia akan malu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.

b.      Hubungan Malu dan Iman
Malu adalah salah satu refleksi iman. Bahkan malu dan iman akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang yang lain juga ikut hilang. Semakin kuat iman seseorang, semakin teballah rasa malunya, demikian pula sebaliknya. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu didalam surga. Lidah yang keji itu adalah termasuk kebengisan, dan kebengisan itu didalam neraka. (HR.Bukhari)

Artinya: Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.

c.       Akibat Hilangnya Rasa Malu
Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Agama. Tanpa control rasa malu seseorang akan bebas melakukan apa saja yang diinginkan hawa nafsunya. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Sesungguhnya diantara yang didapat oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah “Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu”. (HR.Bukhari).

Penegasan Rasulullah SAW diatas mengingatkan apabila seseorang tidak lagi mempunyai sifat malu, maka dia akan kehilangan kontrol terhadap segala tingkah lakunya. Dia akan menjadi manusia lepas kendali yamg merasa bebas melakukan apa saja, tanpa mempertimbangkan halal haran, baik buruk dan manfaat mudharat perbuatannya tersebut. Dia akan melakukan apa saja untuk memuaskan hawa nafsunya. Segala macam cara dia halalkan untuk mencapai tujuannya.
   Malu, amanah, rahnmah dan islam adalah empat hal yang saling terkait. Konsekuensi logis dari hilangnya malu adalah hilangnya amanah. Bila amanah hilang, akan hilanglah rahmah, dan bila rahmah hilang, hilanglah islam.

d.      Pemaaf
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al- afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih. Allah SAW berfirman:

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah “yang berlebih dari keperluan”. (QS.Albaqarah 2:219)

Yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al-afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada dalam hati. Sifat pemaaf adalah salah satu dari manifestasi ketaqwaan kepada Allah SAW sebagaimana dalam firman-Nya:

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al-Imran 3:133-134)

Islam mengajarkan kepada kita untuk memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Menurut M.Quraish shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.
Sekalipun orang yang bersalah telah menyadari kesalahannya dan berniat untuk meminta maaf, tetapi boleh jadi dia mengalami hambatan psikologis untuk mengajukan permintaan maaf. Apalagi bagi orang-orang yang merasa status sosialnya lebih tinggi daripada orang yang dimintai maaf itu. Misalnya seorang pemimpin kepada rakyatnya, seorang bapak kepada anaknya, seorang manajer kepada karyawannya, atau yang lebih tua kepada yang lebih muda. Barangkali itulah hikmahnya, kenapa Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf sebelum dimintai maaf.

e.       Lapang Dada
Tindakan meminta maaf sebaiknya diikuti dengan tindakan berlapang dada. Didalam Al-Qur-`an perintah memaafkan diikuti dengan perintah berlapang dada.

Artinya: Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya). ( QS. Almaidah 5:13).

Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut dengan Ash-shafhu yang secara etimologis berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini ash-shafhu dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahah karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada.
Berlapang dada menuntut seseorang untut membuka lembaran baru hingga sedikitpun hubungan tidak ternodai, tidak kusut dan tidak seperti halaman yang dihapus kesalahannya pada ibarat menulis di selembar kertas.

f.       Dendam
Dendam adalah lawan dari sifat pemaaf, yaitu menahan rasa permusuhan didalam hati dan menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang yang pendendam tidak akan mau memaafkan kesalahan orang lain sekalipun orang tersebut meminta maaf kepadanya. Bagi dia, tidak ada maaf sebelum dia dapat kesempatan membalas sakit hatinya. Dia bersedia menunggu dalam waktu yang cukup lama dan bahkan berusaha dengan susah payah sekedar untuk dapat membalaskan sakit hatinya. Orang yang enggn memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah SWT. Allah SWT sendiri yang maha kuasa berjanji akan memberikan maaf dan ampunan kepada setiap orang yang memunta ampun kepada-Nya. Apa alasan manusia yang dha`if untuk tidak memberikan maaf kepada sesama.
Sifat pendendam tidak hanya merusak pergaulan dimasyarakat tapi juga merugikan dirinya sendiri. Energi akan terkuras dalam memelihara dan berusaha untuk melampiaskan dendamnya. Setiap kali dia melihat orang yang dia dendami, atau bahkan melihat rumah, kantor atau kendaraan saja, hatinya sakit dan semangat membalas dendamnya meluap-luap. Hal ini tentu akan menguras energinya dan membuat dua kelelahan. Oleh sebab itu jauhilah sifat pendedam betapapun kecilnya.

F.     KARAKTERISTIK DALAM AJARAN ISLAM

Secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada dibelakang kata akhlak dalam hal menempati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun, dalam rangka menjabarkan akhlak Islami yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan sosial yang tekandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai bersifat lokal dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu. Namun demikian, perlu dipertegas disini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika atau moral, walaupun etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika atau moral.
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islami itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/Islam) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah SWT, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda yang tak bernyawa). 
 BAB III
PENUTUP
A.    SARAN

1.         Setiap umat Islam dituntu untuk meneladani peliku Nabi dalam mempraktikkan etika, moral dan akhlak, sehingga menjadi uswah hasanah yang diteladani oleh seluruh umat manusia.
2.         Dalam melakukan amal dan kegiatan hidup harus senantiasa didasarkan kepada niat yang ikhlas dalam wujud amal-amal shalih dan ihsan.
3.         Menjauhkan diri dari perilaku riya, sombong, isharaf, fasad, fahsya dan kemunkaran untuk menunjukkan akhlak yang mulia (akhlq karimah), sehingga disukai dan diteladani.
4.         Menjauhkan diri dari akhlak yang tercela (akhlaq madzmummah) yang menyebabkan dibenci dan dijauhi sesama.
5.         Dimanapun bekerja, menuntut ilmu dan menunaikan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari harus benar-benar menjauhkan praktik-praktik buruk yang dapat merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam kehidupan di dunia ini.

B.     KESIMPULAN

Jadi, secara substansial etika, moral dan akhlak memang sama yakni ajaran tentang kebaikan dan keburukan, menyangkut perikehidupan manusia dalam hubungannya dengan tuhan, sesama manusia dan alam dalam arti luas. Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah ukuran kebaikan dan keburukan itu sendiri.
Pada dasarnya akhlak adalah aktualisasi ajaran Islam secara keseluruhan. Dalam kacamata akhlak tidaklah cukup iman seseorang dalam bentuk penggakuan apalagi hanya dalam bentuk pengetahuan. Yang kaffah adalah iman, ilmu dan amal. Amal itulah yang dimaksud akhlak.
Manusia berakhlak adalah manusia yang suci dan sehat hatinya sedang manusia yang tidak berakhlak adalah manusia yang kotor dan sakit hatinya. Namun sering kali manusia tidak sadar kalau hatinya sakit. Kalau pun ia sadar tentang kesakitan hatinya, ia tidak berusaha untuk mengobatinya. Padahal penyakit hati jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik.
Kita telah mengetahui bahwa Akhlak islam merupakan sistem moral dan akhlak yang berdasarkan islam, yakni bertitik tolak dari Aqidah yang diwahyukan Allah pada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Akhirnya dilihat dari fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral dan akhlak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai dan tenteram sehingga sejahatera batiniah dan lahiriyah.
Perbedaan antara etika, moral dan akhlak adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran dan pada moral berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum dimasyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik buruk itu adalah Al Quran dan Al Hadis
Perbedaan lain antara etika, moral dan akhlak terlihat pula pada sifat dan kawasan pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan akhlak lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan akhlak bersifat lokal dan individual. Etika menjelaskan ukuran baik buruk, sedangkan moral dan akhlak menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan.
Namun demikian, etika, moral dan akhlak tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Uraian tersebut diatas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral dan akhlak berasal dari produk rasio dan budaya masyarakat yang secara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain jika etika dan moral berasal dari manusia sedangkan akhlak berasal dari Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, ahmad. Akhlak (Kairo Mesir) tr. Bachtiar Affandi. Jakarta: Jembatan, 1957.
Djatnika, Rahmat. Sistem Etika Islam. Jakarta: Panjimas, 1990.
Nurdin, Muslim. et. al. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: CV. Alfabeta, 1995.
Quasem, Abul. Etika Al-Gazali.tr. J Mahyudin. Bandung: Pustaka, 1975
Suryana, A. Toto.et.al. Pendidikan Agama Islam. Bandung: Tiga Mutiara, 1996.
Salih, Ishaq. Akhlak dan Tasawuf. Bandung: IAIN, Sunang Gunung Djati Press, 1990.
Jusuf, Haqbul. Studi Islam. Jakarta: Ikhwan, 1993.
Departemen Agama RI. Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, 2001.
Ali, Muhammad Daud. Pendidikan Agama Islam. cet. III. Jakarta: Rajawali Pers, 1998
Achmad, Mudlor. Tt. Etika dalam Islam. Al-Ikhlas. Surabaya.
Al-Jazairi, Syekh Abu Bakar. Mengenal Etika dan Akhlak Islam. Jakarta: Lentera, 2003.
Bakry, Oemar. Akhlak Muslim. Bandung: Angkasa, 1981
Masyhur, Kahar. Meninjau berbagai Ajaran: Budi Pekerti atau Etika dengan Ajaran Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1986.
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Fakhry, Majid. Etika Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: PT Raja Grafindo  Persada, 2004.
Yaqub, Hamzah. Etika Islam. Bandung: CV Diponegoro, 1988

Tag : Etika, Moral, Akhlak, Tugas Agama, Agama, Contoh makalah
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment