Friday, December 7, 2012

Historis, Definisi, dan Ruang Lingkup Disiplin Teknik Industri

Kali ini yang saya paparkan adalah Contoh Makalah/Materi tentang Historis, Definisi, dan Ruang Lingkup Disiplin Teknik Industri. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa membantu teman-teman dalam mencari bahan referensi mengenai Materi tersebut. Semakin banyak contoh Makalah yang di dapat semakin mudah kita mengerjakan tugas-tugas makalah yang diberikan oleh guru maupun dosen.

Langsung saja lihat contoh makalah/materinya yang ada di bawah ini :





 1.1.            Pendahuluan

Teknik Industri — istilah mi diterjemahkan dan kata industrial Eiiguieering — sebagai suatu disiplin ilmu keteknikan yang baru, lahir melalui suatu proses evolusi yang lama sejak Revolusi Industri yang berlangsung sekitar dua abad larnpau. Disiplin mi muncul dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga-tenaga yang ahli dan terampil dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian serta pengendalian suatu sistern produksi/industri yang luas dan kompleks. Kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi maupun produktivitas sistem produksi merupakan pendorong utama rnunculnya disiplin Teknik Industri.
Disiplin ataupun profesi Teknik Industri maupun Teknik dan Manajernen Industri dalarn hal mi diharapkan mampu rnenyiapkan tenaga abli dan terampil didalarn mengelola (me”manajemen”i) sistem produksi atau sistem industri yang rnelibatkan komponen-komponen manusia, material, mesin/fasilitas produksi lainnya, energy dan informasi secara integral. Disiplin mi juga mengikhtiarkan pencapaian hasil secara optimal dan pengelolaan faktor-faktor produksi yang didukung oleh pertimbangan kelayakan teknis dan kelayakan sosioekonomis dengan mengutamakan peranan manusia sebagai faktor produksi yang utama. Dalarn perubahan pola produksi yang memiliki kecenderungan untuk mengaplikasikan teknologi yang semakin canggih, maka disiplin teknik industri dalam hal mi mencoba menganalisis interaksi antara sistem manusia-mesin secara seimbang dan mengupayakan peningkatan produktivitas secara optimal.
Disiplin teknik industri pada dasarnya akan memberi bekal dan kemampuan untuk melihat serta menyelesaikan segala permasalahan industri dengan konsep pendekatan sistem (system aproach). Disipliri mi juga melihat segala permasalahan industri dengan tinjauan dan aspek-aspek teknis — sesuai dengan atibut ilmu keteknikan (etigineeriiig) yang disandangnya — dan juga aspek-aspek non teknis yaitu kondisi sosio-ekonomis. Wawasan “ Tekno-Sosio-Ekoiioinis” merupakan ciri yang menonjol dan profesi Teknik Industri. Dalarn konteks disiplin Teknik Industri, maka yang dimaksudkan dengan industri disini meliputi sernua tipe organisasi usaha/produksi yang ada, baik yang bergerak di sektor produksi barang (industri manufaktur) ataupun jasa (service industri). Prinsip-prinsip dasar dan disiplin Teknik Industri
dan justru dan sini akan menunjukkan fleksibilitas (keluwesan) dan luasnya lapangan pekerjaan yang bisa ditangani oleh disiplin Teknik Industri tersebut — akan mampu diaplikasikan pada berbagai sektor lapangan kerja seperti pertanian, rumah sakit, jasa bank/asuransi, jasa transportasi/ distribusi, organisasi pemerintahan dan sebagainya, selain industri/pabrik rnanufaktur sendiri tentunya.

 1.2. Pengertian tentang Industri dan Manajemen Industri
 
Sebelum berbicara lebih jauh lagi mengenai apa dan bagairnana disiplin Teknik Industri, maka terlebih dahulu kita mencoba memformulasikan mengenai arti industri ataupun manajemen industri itu sendiri. Secara definitif industri bisa diartikan sebagai suatu Iokasi/ tern pat d irnana aktivi tas produ ksi akan diselenggarakan; sedangkan aktivitas produksi hisa dinyatakan sebagai sekumpulan aktivitas yang diperlukan untuk rnengubah satu kumpulan masukan (human resources, materials, energy, informasi, dan lain-lain) menjadi produk keluaran (finished product atau service) yang memiliki nilai tambah. Sering kali dijurnpai pengertian yang salah di dalam mengartikan industri vaitu adanya anggapan bahwa industri akan selalu menghasilkan produk-produk nyata (benda fisik). Proses produksi dalam sebuah industri selain bisa memberikan output nyata bisa pula menghasilkan produk-produk yang tidak nyata (abstrak) seperti halnya kita jumpai dalam industri jasa pelayanan. Dalam bentuk diagram proses produksi untuk merubah input menjadi output dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar LI.
Diagram input-output dalarn proses produksi


 Di dalam proses produksi akan terjadi suatu proses perubahan bentuk (transformasi) dan input yang dimasukkan baik secara phisik maupun non phisik. Disini akan terjadi pada apa yang disebut dengan pemberian nilai tamhah (value added) dan input material yang diolah. Penambahan nilai tersebut bisa ditinjau dan aspek penambahan nilai fungsional maupun nilai ekonomisnya. Proses produksi atau bisa juga dikatakan sehagai proses transformasi input menjadi output tidaklah hisa berlangsung sendirian, karena hal tersebut akan mengakibatkan proses produksi menjadi tidak terarah dan tidak terkendali. Agar proses produksi bisa berfungsi secara lebih efektif dan efisien, maka dalam hal mi perlu dikaitkan dengan satu proses lain yang akan mampu memberi arah, mengevaluasi performans, dan membuat penyesuaian dengan lingkungan industri yang selalu berubah-ubah. Untuk rnaksud inilah diperlukan satu proses manajemen yang selanjutnya lebih dikenal dengan manajemen industri. Dengan demikian maka diagram dan sistem produksi yang merupakan kombinasi dan proses produksi dan proses manajemen bisa digambarkan sebagai berikut:


Adanya proses manajemen jelas akan memberikan ketetapan
mengenai:
  1. Sistern nilai dan tujuan yang ingin dicapai
  2. Struktur organisasi dikaitkan dengan hirarki, tanggung jawab dan wewenang
  3. Perancangan, perencanaan dan pengendalian aktivitas operasional yang harus dilaksanakan.

Secara lebih spesifik fungsi yang harus dilaksanakan oleh proses manajemen industri akan mencakup 3 (tiga) fungsi pokok yaitu herkaitan dengari fungsi pemasaran (marketing), fungsi pcndanaan (finance) dan fungsi produksi (production). Fungsi pemasaran dalarn hal mi bertanggung-jawab untuk menumbuhkan kehutuhan (demand) dan output produk yang dihasilkan. Fungsi produks.i bertanggungjawab untuk membuat dan menghasilkan produk untuk merealisasikan kehutuhan. Sedangkan fungsi untiik pendanaan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan dana yang cukup dalam menunjang proses produksi baik kebutuhan dana yang bersifat jangka pendek maupun panjang.

1.3.            Wawasan Teknik Industri dan Analisa Manajemen

Dalarn menghadapi permasalahan-permasalahan industri yang sernakin tidak pasti dan saling kait-mengkait dengan lingkungannya maka diperlukan satu pendekatan yang mampu dipakai untuk rnemecahkan permasalahan tersebut secara tepat. Pengelolaan industri tidaklah hisa hanya dijalankan berdasarkan intuisi, logika umum, pertimbangan-pertimbangan yang lehih mengandalkan spekulasi bisnis sernata, atau modal pengalaman saja; melainkan harus diramalkan, direncanakan, diorganisir, dioperasikan dan dikendalikan berdasarkan analisa kuantitatif melalui perhitungan-perhitungan yang seksama. Frederick Winslow Taylor — yang merupakan pioner pengembangan ilmu Teknik Industri memperkenalkan pendekatan manajemen ilmiah (scientific management) untuk menyelesaikan masalah-masalah industri secara Iebih pasti. Pernyataan Taylor yang terkenal “knowing exactly what you want to do, and then seeing that they do it in the   best and cheapest way” memberi landasan filosofis baru dalam aktivitas manajemen di Iantai produksi.
Ilmu keteknikan (engineering) dan ilrnu manajemen pada dasarnya memiliki filosofis dasar yang sama. Kalau ada perhedaan maka itu hanyalah terletak pada obyek yang dihadapi. Manusia teknik (engineer) atau manusia manajemen (manager) dalam lingkungan yang kompleks (industri), keduanya harus mampu mengalokasikan secara optimal segala sumbcr untuk di”input”kan ke dalam proses produksi atau operasional yang ada. Keduanya juga harus mampu mengidentifikasikan dan mengevaluasi hubungan/ interaksi dan komponen-komponen (sub-systems) dan sistem produksi/ industri yang ada. Ilmu keteknikan dan ilmu manajemen sedikit memiliki perbedaan dalarn hal penguasaannya terhadap sub-sistem yang dihadapi. Seorang manusia teknik (engineer) terutarna sekali lebih tertarik pada sub-sistem material yaitu berbicara mengenai metoda atau proses pengolahan material tersebut melalui rancangan-rancangan teknis. Ia seringkali bekerja dalam situasi yang serba pasti dimana semua prob1cm sudah diidentifikasikan dengan jelas. Segala bentuk ketidakpastian sudah dianalisis secara signifikan melalui informasi --- baik yang diperoleh berdasarkan ilmu yang dikembangkan melalui eksperirnen atau standard-standard yang tersedia --- mengenai perilaku atau sifat-sifat material yang menjadi obyek studinya.
Di lain pihak seorang manajer, ruang lingkup pengamatannya lebih ditekankan pada pengalokasian sumher daya manusia atau sumher input Iainnya. Problem yang dihadapi cenderung lebih bersifat tidak pasti dan tidak terdefinisikan secara jelas dibandingkan dengan problem yang dihadapi oleh seorang engineer. Ta seringkali harus bekerja dalam situasi yang serba niengambang karena berhadapan dengan perilaku-perilaku manusia yang serba sulit untuk diterka kemauannya. Demikian pula seseorang manajer sering pula dihadapkan pada kondisi-kondisi lingkungan di luar organisasi (industri) yang serba cepat berubah, tak terkendali, sulit diramal dan sebagainya; tetapi semua itu memberi pengaruh signifikan terhadap eksistensi organisasi yang dikendalikannya. Perbedaan ruang lingkup wawasan manusia teknik (engineer) dan manusia manajemen (manager) tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:



-Problem terdefinisikan
-Sub-sistem material
-Penuh dengan faktor yang serba pasti
-Asumsi berlangsung secara continue analitis
-Data-data bisa dikembangkan baik
-Keputusan diambil secara Analitis
-Sub-sistern manusia
-Banyak berhadapan dengan factor yang tidak pasti
- Asumsi tidak berlaku secara kontinue
-Data base tidak lengkap
-Keputusan lebih banyak diambil berdasarkan intuisi

Gambar 1.3.
Ruang Lingkup Wawasan Regional Industri

Dalam menghadapi masalah-masalah industri yang merupakan sistem integral dengan kompleksitas yang tinggi, seringkali dirasakan bahwa teknik-teknik kuantitatif — yang merupakan ciri dan disiplin engineering — kurang memadai. Di lain pihak penyelesaian masalah hanya dengan modal pengalaman dan intuisi semata sering dirasakan kurang dalam hal ketetapan dan kepastiannya. Penyelesaian melalui pengambilan keputusan secara kualitatif — yang justru merupakan ciri ilmu manajemen — tidak bisa memberikan ketegasan. Karena itu dirasakan perlu adanya satu cara penyelesaian masalah yang dapat mengisi di antara kedua pendekatan di atas. Engineering management — yang selanjutnya bisa kita namakan saja sebagai manajemen teknik atau manajemen industri — merupakan jawaban terhadap persoalan tersebut. Disiplin Teknik Industri dalam hal mi memberikan alternatif untuk menjembatani persoalan-persoalan yang tidak tertangani oleh disiplin keteknikan lainnya dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh disiplin non-teknik (manajemen) didalam menyelesaikan problematik industri. Teknik Industri obyek telaahnya adalah sistem produksi integral. Disiplin Teknik Industri sesuai dengan ciri keteknikannya akan dituntut untuk memahami dasar-dasar teknik matematika dan fisika) ataupun pengetahuan proses produksi secara mendasar. Di sisi lain Teknik Industri sebagai totalitas harus menguasai dan mengenal analisa manajemen secara mendalam. Di samping Jibebani tugas-tugas yang bersifat teknis, maka disiplin mi juga akan dibebani dengan tugas-tugas manajerial. Analisa manajemen dalam suatu industri haruslah juga didasarkan pada analisa dan proses pengambilan keputusan terhadap sistem integral. Untuk bisa mengidentifikasikan permasalahan dan sebuah sistem produksi yang integral tadi diperlukan kemampuan untuk me”model”kan sistem Jalam bentuk simulasi-simulasi industri.
Dari uraian tersebut di atas maka disiplin Teknik Industri akan memiliki kelebihan-kelebihan didalam menangani persoalan-persoalan rndustri yang kompleks. Dengan penguasaan teknologi ataupun dasarJasar engineering yang kuat dikombinasikan dengan pengetahuan mengenai ilmu-ilmu sosial-ekonomis; maka disiplin Teknik Industri akan dapat mensintesakan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif didalam analisa manajemen industri. Beraneka ragamnya Iatar belakang pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang Teknik :ndustfi memberikan kemungkinan adanya penugasan bersifat teknis maupun manajerial.

1.4.      Ciri-Ciri Disiplin Keteknikan (Engineering) secara Umum dan Teknik Industri secara Khusus

Sebelum membicarakan rnengenai arti atau definisi umum dan disiplin Teknik Industri maupun Teknik dan Manajernen Industri, maka ada baiknya kita tinjau terlehih dahulu pengertian/definisi tentang ilmu teknik, keteknikan ataupun engineering yang merupakan “induk” atau “batang pokok” dan disiplin Teknik Industri tersebut. Engineering konon berasal dan kata “ingeniuni” atau “ingeinators” yang merupakan senjata dan legiun tentara Romawi yang dipakai untuk menjebol dinding-dinding pertahanan musuh. Kata mi kemudian berubah menjadi “engineer” yang dikaitkan dengan individu-individu yang memiliki interest untuk menciptakan teknologi perang atau yang berkaitan erat dengan “ military i’ngi ileering”. Pada perkembangan selanjutnya istilah inipun kemudian diaplikasikan untuk aktivitasaktivitas non-militer yang kemudian kita kenal dengan istilah “civil engineering atau teknik sipil.
Secara definitif ilmu teknik, keteknikan ataupun engineering bisa dinyatakan sebagai:

‘The profession in which a knowledge of the mathematical and natural sciences gained (nj study, experience, and practice is applied with jiidg— went to develop ways to utilize, economically, the materials and forces of nature for time bcnetif of muon kind”

Dari definisi di atas tampak bahwa profesi keteknikan mi akan banyak mengaplikasikan ilmu pengetahuan (science) dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Disiplin mi terutarna sekali mencoba mengaplikasikan metoda analitik/ matematik, prinsip-prinsip dan hukum fisika dan ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan melalui proses-proses yang kreatif untuk mengatasi problem merubah bahan haku (raw materials) ataupun sumber-sumber alamiah lainnya untuk mom peroleh output yang bisa memuaskan kebutuhan manusia. Proses yang berkaitan dengan aktivitas konversi ataupun transformasi mi biasanya kita sebut sebagai proses perancangan (design) yang memberi ciri khusus profesi engineering mi yang tidak kita jumpai dalam profesi lainnya. Apakah yang dimaksud dengan proses perancangan (design) ini ? Yang pasti, proses perancangan akan sangat banyak memerlukan sejumlah kreativitas yang dalam hal mi diternpuh melalui aktivitas analisis dan sintesis. Dalam Iangkah analisis yang lebih umum dikaitkan dengan “existing systems” akan mencoba menguraikan prob1cm ke dalam elernen-elemen yang fundamental untuk lebih memperoleh detail permasalahan yang dihadapi; scdangkan langkah sintesis yang lehih sering dikaitkan dengan upaya rnernperoleh “new/ improved system” mencoha memadukan elemen—elernen permasalahan yang selesai dikaji ke dalam satu kesatuan pemecahan masalah yang hulat. Proses engineering pada prinsipnya akan hanyak melibatkan Iangkah-Iangka h analisis dan sintesis. Berikut akan coba digambarkan Iangkah-lan gkah dasar dan proses engineering (perekayasaan).



Berdasarkan pada pendefinisian tentang ilmu teknik, keteknikan atau engineering tersebut, maka istilah “engineer” (manusia teknik atau sang “insinyur”) dapat diartikan sebagai individu yang mampu mempergunakan ilmu mateinatika dan pengetahuan a/am (fisika), ilmu keteknikan, prinsip-prinsip dan metoda analisis man pun perancangan (design) teknik yang diperolehnia baik melalui jalur pendidikan, pen galaman inaupun percohaan (eksperiinen) yang telah dilakukannya sehingga dia mamiliki kualifikasi untuk mempraktekannnya.
Berkaitan dengan definisi, arti maupun formulasi yang telah diuraikan tersebut di atas maka sampailah kita pada upaya menarik kesimpulan umum mengenai apa dan bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan disiplin Teknik Industri ataupun Teknik dan Manajemen Industri. Teknik Industri (Industrial Engineering) seringkali disebut sebagai Teknik Produksi/ Operasional (Production/ Operation Engineering) merupakan disiplin ilmu teknik atau keteknikan yang berkaitan dengan proses-proses produksi atau transformasi (konversi) material ke keadaan (output) yang berbeda dan lebih berguna dengan memperhatikan bentuk, lokasi atau waktu. Istilah Teknik Industri mi kernudian dikembangkan lagi menjadi Teknik dan Manajemen Industri untuk memberi penekanan pada fungsi dan peran “proses Inallajenien” didalam merancang, merencanakan, mengomganisir maupun mengendalikan proses produksi yang berlangsung. Apapun istilah yang dipakai jelas disiplin Teknik Industri akan memiliki tanggung jawab pokok yaitu untuk merancang cara (medium/metoda) berproduksi agar tercapai kondisi yang lebih disukai, sebagai contoh adalah memaksimalkan laju pengembalian investasi (rate of investment) yang telah ditanamkan. Hal temsebut dapat digambarkan dalam diagram herikut:


            Dari diagram di atas tampak bahwa tugas pokok dan disiplin Teknik Industri adalah untuk menspesifikasikan “black-box” tersebut dalam anti membuat rancangan media produksi yang efektif dan efisien. Media produksi dirnana seorang Teknik Industri akan banyak terlibat merupakan kondisi yang kompleks, agregasi, saling berkaitan dan melibatkan komponen-komponen produksi seperti manusia, mesin, material, jaringan informasi dan lain-lain.
Dalam rumusannya — yang selanjutnya akan dipakai sebagai definisi standard — Institute of Industrial Engineers (1985) menyatakan bahwa:

Industrial engineering is concerned with the design, unpronenien t and installation 01 integrated si/stems of people, materials, information, equipment and cnergij. It draws upon speciali:ed knowledge and skill in the mathematical, plnsical, and social sciences together with time principles and methods of engineering anahsis and dcsign to specitij, predict, and L’pahiatl’ the result to be obtained from such systems.

Dan definisi tersebut di atas maka disiplin Teknik Industni bisa diartikan sehagai keahlian teknik (engineering) yang berfungsi untuk merancang (design) fasilitas-fasilitas produksi seperti pemilihan proses manufakturing, perencanaan fasilitas (lokasi, layout, dli) dan tata cara herprod uksi (methods engineering). Selain itu yang tidak kalah pcntingnya disiplin Teknik industri mi juga bertanggung—jawab untuk merancang proses pengelolaan (manajemen) d an proses prod uksi/ operasional agar sistern produksi tersebut hisa diselenggarakan secara terencana, terorganisir dan terkendali. Disiplin Teknik Industni pada hakikatnya juga mengusahakan tercapainya pencapaian hasil secara optimal dan pengelolaan takton-faktor produksi yang didukung oleh pertimbangan kelayakan teknik dan kelayakan ekonomis.
Secara umurn dikenal dua aliran dalarn disiplin Teknik Industri vaitu aliran Teknik Industni tradisionul dan aliran Teknik Industri iuiod— e 01. Aliran tradisional leb ih rnenitik-beratkan perhatiannva pada halhal yang bersifa praktis nyata heru pa pemecahan masalah-masalah yang dibatasi oleh dinding-dinding industri.
Selanjutnya aliran Teknik Industni modern cenderung menekankan aplikasinya pada hal-hal yang bersi fat teori tis dan abstrak. Istiiahnya adalah keterlibatan dalam masalah-masalah yang tid ak dibatasi oleb dind ing-d inding industni. Permasalahan pokok yang dihadapi adalab hahwa rnasalah-masalah industri ternyata tidak lagi terpusat dalam wilayah yang dibatasi oleh dinding-dinding industri itu sendini, tetapi juga dipengaruhi oieh sistern dan lingkungan yang berada di Iuarnya, sehingga tidak bisa tidak harus pula diaplikasikan konsep pendekatan sistem dengan memperhatikan segala macam kondisi yang berpengaruh dan memiliki kaitan erat dengan rnasalahmasalah industri. Pendekatan sistern (system approach) akan memberikan warna yang khas di dalam aliran Teknik Industri modern. Selain itu aliran modern akan mengaplikasikan teknik-teknik baru untuk rnemecahkan permasalahan yang abstrak dan kompleks seperti Operation Research, Analisa dan Permodelan Sistem, Jaringan Kerja, Komputerisasi, dan lain lain. Aliran Modern mi tidak saja mencoba memecahkan masalah-masalah industri yang bersifat deterministik, melainkan juga sanggup memecahkan persamalahan yang kompleks, abstrak dan bersifat prohabilistik.
Selanjutnya berdasarkan aktivitas-aktivitas yang harus bisa dijangkau oleh profesi Teknik Industri, maka kurikulum Pendidikan Teknik Industri haruslah disesuaikan ke arah sana. Secara garis besarnya kurikulum Teknik Industri dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • KELOMPOK ILMU DASAR (BASIC SCIENCE): meliputi materimateri pokok yang berkaitan erat dengan ilmu-ilmu dasar teknik seperti matematika, fisika, kimia, dan komputer. Selain itu juga diberikan materi-materi dasar urnum (MKDU) yang memiliki kaitan erat dengan ilmu-ilmu sosial seperti Pancasila, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Agama, dan sehagainya.
  • KELOMPOK DASAR TEKNIK (ENGINEERING DESIGN):
  • dengan materi pokok antara lain Men ggambar Tcknik, Perancangan
  • Proses (Teknologi Mekanik), Elektronika, dan lain-lain.
  • KELOMPOK ILMU KETEKNIKAN (ENGINEERING SCIENCE) yang dalam hal mi terbagi dalam 2 klasifikasi yaitu:
·         Kelompok Non-Teknik Industri : seperti Pengetahuan dan Pengolahan Bahan, Mekanika Teknik, Termodinamika, Penggerak Mula dan lain-lain.
·         Kelompok Teknik Industri : seperti Operation Research, Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, Methodis Engineering, Statistik Industri, Perencanaan dan pengendalian Produksi, Dinamika Industri, Simulasi Sistem Industri dan sebagainya.
Dengan memperhatikan aplikasi dan kebutuhan di industri, maka disiplin Teknik Industri akan merancang sistem industri yang berorientasi pada perancangan aktivitas manusia (human activity system) dan perancangan sistem pengendalian manajemen (management control system). Human activity system akan berkaitan dengan rancangan sarana kerja fisik dimana aktivitas manusia akan discienggarakan, sedangkan management control system berkaitan dengan prosedur untuk perancangan, pengukuran dan pengendallan semua aktivitas organisasi. Human activity system dalam organisasi akan mencakup elemen-elemen berikut ini:

  • Proses manufacturing atau prosedur-prosedur proses lainnya dalam industri jasa, kimia, dan lain-lain.
  • Material, mesin dan peralatan, metoda kerja.
  • Tata letak (layout) dan fasilitas dan aliran material (termasuk pula peralatan dan metoda pemindahan material).
  • Desain area kerja (stasiun kerja).
  • Prosedur perawatan, keselarnatan dan kesehatan kerja.

Sedangkan imlaiiagemnciit control system dan suatu organisasi terdiri dan elemen-elemen antara lain seperti:

  • Sistem rnanajemen perancangan.
  • Prosedur peramalan, perencanaan dan pengendalian produksi
  • Analisa ekonorni dan penganggaran.
  • Perancangan penggajian, upah dan insentif/bonus.
  • Perancangan organisasi, alokasi sumber daya manusia (recruiting, training dan alokasi sumber daya manusia).
  • Perencanaan kebutuhan material, sistern pengendalian persediaan, sistem pengendalian kualitas, dan lain-lain.
Walaupun elernen-elemen yang telah disebutkan di atas tadi ‘iemakai terminologi untuk industri rnanufakturing, bukan berarti anva berlaku untuk sistem manufaktur akan tetapi juga dapat iaplikasikan untuk semua sistem industri (industri jasa, pertanian, an lain-lain).
Disiplin Teknik Industri pada dasarnya akan mampu melihat :ermasalahan industri melalui pendekatan sistem yang terpadu. Disiplin mi juga melihat segala permasalahan baik yang bersifat teknis aupun non-teknis khususnya yang berkaitan dengan kondisi sosialkonomis, artinya segala produk perencanaan yang dibuat disamping arus dapat. memenuhi spesifikasi teknis juga haruslah mampu di pertanggung-jawahkan secara sosial-ekonomis.
Persyaratan “ Tekno-Sosio-Ekonomis” ini banyak dijumpai dalam kegiatan industri. Apabila kedua hal tersebut tidak ditelaah secara mendalam akan menyebabkan produktivitas menjadi rendah. Analisa Tekno-Sosio-Ekonomis akan mampu menjelaskan dan menyelesaikan persoalan industri secara lengkap dan bersifat pendekatan rnakro.

Dari hal-hal tersebut di atas maka Amen can Institute of Industrial Engineers (AIIE) secara spesifik telah mencoba merumuskan aktivitasaktivitas yang bisa ditangani oleh disiplin Teknik Industri antara lain sebagai berikut:

  • Perencanaan dan pemilihan metode-metode kerja yang efektif dan efisien dalam proses produksi.
  • Pemilihan dan perancangan dan perkakas kerja serta peralatan yang dibutuhkan dalam proses produksi.
  • Desain fasilitas pabrik, termasuk disini perencanaan tata letak (layout) segala fasilitas produksi, peralatan pemindahan material, dan fasilitas-fasilitas untuk penyimpanan bahan baku atau produk jadi.
  • Desain dan perbaikan sistem perencanaan dan pengendalian untuk distribusi barang/jasa produksi, pengendalian, persediaan, pengendalian kualitas dan reliabilitas.
  • Pengembangan sistem pengendalian ongkos produksi seperti pengendalian budget, analisa biaya dan standard biaya produksi.
  • Perielitian dan pengembangan produk.
  • Desain dan pengembangan sistem pengukuran performans serta standard kerja.
  • Desain dan pengembangan sistem analis, value engineering serta sistem informasi manajemen.
  • Pengembangan dan penerapan sistem pengupahan dan pemberian insentif berdasarkan performans serta evaluasi kerja.
  • Perencanaan dan pengembangan organisasi, prosedur kerja, policy, sistem pemrosesan data, dan lain-lain.
  • Analisa lokasi dengan mempertimbangkan potensi pemasaran, sumber bahan baku, suplai tenaga kerja, sumber pembiayaan, dan lain-lain.
  • Aktivitas penyelidikan operasional (operation research) dengan analisa matematik, sistem simulasi, program linier, teori pengambilan keputusan didalam rangka optimasi pengambilan keputusan.




1.5. Kaitan Disiplin Teknik Industri dengan DisplinDisiplin yang Lain

Disiplin Teknik Industri pada dasarnya memiliki kaitan yang erat dengan disiplin-disiplin keteknikan ataupun ilmu yang lain. Disamping berkaitan erat dengan disiplin Teknik Mesin (Mechanical Engineering), maka bidang Teknik Industri akan pula memiliki kaitan dengan Manajemen, Computer Science, Statistik, Operation Research, Human Engineering, Psikologi, Sosio-Ekonomi System Engineering, dan lain-lain. Dibanding dengan disiplin-disiplin seperti Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Elektro, atau Teknik Kimia yang lebih menekankan secara mendalam pada disiplin keteknikan mereka sendiri (teknologi perangkat keras khususnya), maka disiplin Teknik Industri mi pada dasarnya akan banyak terlihat pada hal-hal yang bukan saja menyangkut masalah keteknikan tetapi juga meliputi hal-hal yang hersifat non-teknis. Berikut akan diberikan skema diagram kaitan antara disiplin Teknik Industri dengan disiplin-disiplin ilmu dan keteknikan yang lain sebagai berikut:

Dari skema diagram, menunjukkan bahwa seseorang industrial engineers akan memiliki latar belakang pengetahuan dan paham tentang masalah sains, matematika, dan beberapa mata kuliah engineering yang juga diambil oleh sarjana-sarjana teknik lainnya. Sebagai tambahan, seorang sarjana Teknik Industri akan pula rnelengkapi dirinya dengan beberapa pengetahuan keahlian yang lain yang memberi ciri dan identifikasi yang khas Teknik industri seperti manajemen, statistik, computer science, operation research, system engineering, human engineering, sosio-ekonomi, dan lain-lain.


1.6. Sejarah Singkat Disiplin dan Profesi Teknik Industri


Disiplin Teknik Industri muncul dan berakar kuat pada Revolusi Industri (Tahun 1750-an). Disiplin mi pada awalnya dikembangkan oleh beherapa individu yang berusaha mencari/mengernbangkan prinsip-prinsip organisasi dan manajemen produksi tingkat lanjut. Setelah itu disiplin Teknik Industri mulai memberi ciri dan identifikasi dirinya secara khas dan muncul sebagai disiplin keteknikan (engineering) tersendiri yang secara formal terpisah dengan disiplin-disiplin engineering lainnya sekitar awal abad 20 dan kemudian menernukan tingkat kernatangannya setelah perang dunia II. Phase-phase perkembangan industri — yang secara langsung juga ikut melandasi disiplin keilmuan Teknik Industri — secara historis dapatlah digambarkan dalarn matrik berikut:
 
Revolusi industri banyak menghasilkan hal-hal yang baru pada industri baik yang menyangkut perangkat keras maupun perangkat lunak yang terkait dalam teknik produksi. Munculnya penemuan baru yang berupa peralatan-peralatan pemintal dalam industri tekstil merupakan salah satu penemuan yang patut dicatat, karena dan sini kemudian berkembang penemuan-penemuan peralatan produksi yang lain untuk berbagai macam jenis industri. Demikian pula penemuan mesin uap dan peralatan mekanis lairfriya yang pada akhirnya mampu membawa industri untuk tidak lagi tergantung pada manusia ataupun hinatang sebagai sumber tenaga utamanya. Dalam industri manufaktur kemajuan yang patut dicatat adalah dengan diketemukannya perkakas potong (cutting tools) yang lebih baik dan munculnya mesin-mesin produksi (machine tools) dengan tingkat teknologi yang lebih maju. Revolusi industri akhirnya juga menyebabkan munculnya pabrikpabrik yang relatif mempekerjakan orang di satu pihak dan mengurangi industri-industri kerajinan rumah tangga (home crafts) di lain pihak.
Dengan munculnya pabrik-pabrik, maka periode selanjutnya banyak dikuasai oleh pemikiran-pemikiran baru akan metoda kerja, arganisasi dan/atau manajemen produksi. Pada masa-masa awalnya industri dioperasikan menurut cara yang kurang begitu terencana dan terorganisir secara rapi seperti halnya yang bisa kita lihat dalam sistem produksi di pabrik pada akhir tahun abad 20 mi. Frederick Winslow Taylor dalam hal mi dianggap sebagai pelopor yang mengawali era haru dalam usaha menganalisa sistem produksi. Jika Revolusi Industri mampu membawa berhagai macam sumber tenaga (power) baru dan peralatan mekanis yang lain (teknologi perangkat keras) yang memungkinkan proses produksi dan industrialisasi dapat berlangsung secara meluas, maka Taylor telah mencoba menawarkan suatu konsep hahwa bidang engineering juga harus mampu dan ikut bertanggungawab akan hal-hal yang rnenyangkut perancangan, pengukuran, perencanaan, penjadwalan maupun pengendalian kerja (teknologi perangkat lunak). Disini Taylor mengembangkan suatu filosofi manajernen yang berlandaskan pada analisa dan pengukuran kerja herdasarkan metode atau pendekatan ilmiah. Nama Taylor mi kemudian sering dihubungkan dengan studi pengukuran kerja — yang diterjernahkan dan istilah Work Measurement atau Motion and Time Study dimana disini Taylor mencoba menganalisa metode yang seharusnya digunakan dalam penyelesaian kerja dan mantapkan standard waktu penyelesaiannya. Metode Taylor selanjutnya membawa ke arah usahausaha perbaikan dalam proses perencanaan dan penjadwalan proses produksi yang ternyata terbukti mampu membawa kenaikan tingkat produktivitas secara cepat dan berarti. Usaha-usaha yang dirintis oleh Taylor mi melandasi konsep produksi massal (mass production) yang menghaniskan adanya standarisasi dalam segala aspek produksi yang herlangsung yang meliputi rancangan produk, standarisasi metode, waktu kerja, dan sebagainya.
Aktivitas Taylor kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh Teknik industri lain seperti pasangan suami isteri Frank dan Lillian Gilherth, Henry Gantt, Harrington Emerson, W.A. Shewart, dan lain lain. Gilberth terutama sekali dianggap berjasa didalam usaha memberi landasan untuk rnengindentifikasi, menganalisa d an mengukur gerakan-gerakan dasar manusia pada saat rnelaksanakan kerja manual. Kerja dan Gilberth mi hanyak sekali memberi kesadaran bagi manajemen akan arti pentingnya penyederhanaan di dalarn perancangan cara/metode/prosedur kerja guna rnemperoleh tata cara kerja yang lebih efektif dan efisien (ditinjau dan segi pengeluaran energi kerja, pernanfaatan waktu ataupun dampak sosiologi/ psikologis). Penelitian dan Gilberth mi dalam disiplin Teknik Industni akan sangat dikenal sebagai studi gerakan kerja (motion study) atau teknik tata cara (methods engineering). Isteri Frank Gilherth — Lillian Gilberth, seorang psikolog — dalam hal mi banyak sekali memberi wawasan bagi para engineer yang melakukan penelitian terhadap manusia. Disini pengaruh penilaku (behavior) manusia baik secara individu pada saat berinteraksi dengan lingkungan kerja fisik maupun sesama pekerja yang lain (human relation) akan memberi pengaruh yang mendasar didalarn upclya peningkatan produktivitas kerja. Pelopor lain dalam disiplin Teknik Industri adalah Henry Gantt yang berhasil mengemban gkan prosed ur penjadwalan rencana kerja dengan penggambaran secara sistematis dalam bentuk grafis. Metoda penjadwalan kerja mi kemudian dikenal dengan nama peta balok (bar chart) atau peta Gantt (Gantt Chart). Sedangkan Harrington Emerson selanjutnya dikenal sebagai orang yang herjasa di dalam merumuskan prinsip-prinsip efisiensi didalam kegiatan kerja, disamping juga rnengemhangkan konsep Line dan Staff Organization serta dasar-dasar pemberian insentif/ bonus kerja.
Disamping tokoh-tokoh tersebut di atas masih hanyak lagi pelopor-pelopor yang dianggap herjasa didalam memberi landasan bagi pengembangan disiplin Teknik Industri (seperti Raip Barnes, Marvin Mundel, Il.B. Maynard, dll). Sekitar tahun 1920-1930 banyak pengetahucin-pengetahuan baru dikembangkan yang kemudian menjadi ciri pokok disiplin Teknik Industri seperti pengendalian persediaan (inventory control), pengendalian kualitas (quality control), tata letak pabrik (plant layout), pengukuran kerja, dan sebagainya. Periode antara tahun 1900 sampai sekitar tahun 1930-an mi dikenal sebagai era manajemen ilmiah (scientific management) dirnana dalam periode mi dianggap pula sebagai awal kelahiran disiplin Teknik Industri. Frederick W. Taylor — yang berlatar helakang Pendidikan Teknik Mesin (Mechanical Engineering) — dipertimbangkan sebagai orang yang paling banyak jasanya didalarn mengenalkan lapangan haru dalam ruang lingkup engineering yang ternyata bukan saja selalu terlibat d idalam masalah-rnasalah pengemban gan teknologi perangkat kerasnya saja, akan tetapi juga seharusnya ikut bertanggung-jawab dalarn masalah-masalah perangkat lunak. Atas jasa-jasanya mi, maka orang kemudian menyebut Taylor mi sebagai “the ftithier of scientific iiianageinent” atau “f/ic’ fat/icr of industrial engineering”.
Periode herikutnya yang diawali sekitar tahun 1920-an saat mulamnya era Teknik Industri. Periode 1920 sampai 1930 sendiri merupakan periode transisi antara konsep manajemen ilmiah dengan a liran Teknik md ustri Tradisi onal. Aliran Tekni k Indus tn Tradisional merupakan pada dasarnya banyak menekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan:

  • Methods Engineering : Operation Analysis, Studi Gerak dan Pengukuran Kerja, Pemindahan Material, Perencanaan dan Pengendalian Produ ksi, Keselamatan Kerja serta Standarisasi.
  • Work Measurement: Pengukuran dan Penataan Waktu Standard, Pradetermind Elemental Time Standards.
  • Control Determination : Pengendalian Produksi, Pengendalian Persediaan, Pengen dalian Kualitas Produksi, Pengendalian Biaya dan Budget Produksi.
  • Plant Facilities and Design : Tata letak Fasilitas Pabrik, Pengadaan dan Penggantian Peralatan, Desain Produk, Desain Perkakas dan Peralatan Kerja Bantu, dan lain-lain.

Aliran Teknik Industri Tradisional terutama sekali menemukan masa-masa gemilangnya — dimana aktivitas-aktivitas uama seperti tersehut di atas banyak sekali diaplikasikan secara luas dalam industri - sampai sekitar Perang Dunia II. Pada saat mi industri sudah sampai pada tahapan perluasan wilayah pernasaran (mass-marketing) sebagai dampak kelanjutan dan aktivitas produksi massal (mass-production). Masa-masa seperti mi tentu saja memhutuhkan disiplin keilmuan yang mampu membuat terobosan-terobosan dan wilayah “dindingdinding” industni. Permasalahannya adalah bai’nva masalah-masalah industni tidak lagi terpusat di dalam wilayah industri itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh sistern dan lingkungan yang berada di luarnya sehingga tidak bisa tidak harus pula diaplikasikan konsep pendekatan sistern (system approach) dengan memperhatikan segala macam disiplin yang berkaitan erat dengan masalah-masalah peng√©mbangan industri.

Selanjutnya era pembangunan yang sangat penting dalam disiplin Teknik Industri terjadi saat setelah Perang Dunia II, bersamaan dengan munculnya disiplin keilmuan baru yang dikenal dengan nama Penyelidikan Operasional (Operation Research). Operation Research pada dasarnya merupakan aplikasi dan matematika tingkat tinggi guna menyelesaikan problem-problem yang terjadi pada dunia nyata. Analisa mi berasal mula dan daratan Inggris dan Amerika Serikat selama Perang Dunia II berlangsung yang dikembangkan dengan maksud untuk menyclesaikan permasalahan militer yang sulit untuk dipecahkan saat itu. Dan usaha-usaha untuk menyelesaikan masalahrnasalah perang dan strategi militer khusus nya berkaitan dengan pengadaan logistik — disiplin Operation Research ternyata mampu pula diadaptasikan dengan sukses guna menjawab masalah-masalah yang kompleks dalam dunia usaha dan industri. Pada era modern mi disiplin Teknik Industri berhasil menemukan tingkat kematangannya. Disamping aplikasi Operation Research untuk kepentingan industri, maka pengembangan electronic digital computer (ENIAC) pada tahun 1946 ikut pula memberi andil dalam pertumbuhan aliran Teknik Industri Modern khususnya untuk melakukan komputasi dan simulasi problematik industri yang semakin kompleks dan abstrak.

Aliran Teknik Industri Modern tidak saja berusaha memodernkan konsep-konsep dasar yang ada dalam aliran tradisional, akan tetapi juga memberi arah dan corak baru dalam bidang Teknik Industri. Disini aplikasi dan konsep Teknik Industni bukan saja ditekankan pada hal-hal yang bersifat praktis dan nyata melainkan juga banyak ditekankan pada hal-hal yang bersifat teoritis-abstraksi tinggi. Onientasi baru disiplin Teknik Industri mi kemudian akan mengikut sertakan konsep-konsep tentang feed-back control, computer science, behavioral theory, system engineering dan cybernetics sehingga disiplin tersebut sekitar tahun 1970-an dikenal kemudiani dengan disiplin Teknik dan Sistem Industri (Industrial dan System Engineering).
 
   
1.7. Perkembangan Organisasi dan Pendidikan Tinggi Teknik Industri

  Pemaharnan tentang suatu profesi dapat diperoleh dengan menelusuri sejarah perkembangan organisasi atau lembaga pendidikannya. American Society of Mechanical Engineering (ASME) di Arnerika Serikat merupakan forum yang pertama kali mendiskusikan konsep-konsep Teknik Industri pada awal pertumbuhannya, khususnya hal mi dilakukan oleh Taylor cs. Kemudian pada tahun 1912 terbentuklah organisasi yang bernama “The Society of Promote the science ofMnnagentent” yang kemudian berubah namanya menjadi “The 7iylor Society” pada tahun 1915. Organisasi mi pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan konsep-konsep Scientific Management yang diperkenalkan oleh Frederick Winslow Taylor. Menjelang tahun 1922 herdiri pula “TheAnierican ManagenientAssociation”. Selanjutnya pada tahun 1934 “The Taylor Society” dan “The Society of Industrial Engineers” bergabung menjadi satu dengan nama “The Society for Advancement Management”.

American Institute ofindustrial Engineers (AIIE) berdiri pada tahun 1948 dan merupakan organisasi profesional yang khusus mengembangkan profesi Teknik Industri. Pada tahun 1980-an organisasi mi berkembang menjadi organisasi internasional tidak hanya heruang-lingkup Amerika Serikat saja dengan nama “Institute of Industrial Engineering (AIIE)”. Organisasi lain yang erat hubungannya dengan profesi Teknik Industri dimana banyak praktisi Teknik Industri yang menjadi anggotanya dapat disebutkan antara lain sebagai berikut:

  • Operation Research Society of America (ORSA)
  • The Institute for Mann gemen t Science
  • Association for Coin puting Machinery
  • American Society of Quality Control (ASQS)
  • Society for Decision Sciences
  • American Production and Inventory Control Society
  • Society of American Value Engineers
  • American Association of Cost Engineers

Organisasi-organisasi profesi tersebut di atas terutama dijumpai di Anwrika Serikat. Selain itu hisa pula dijumpai organisasi sejenis di Eropa atau Asia. Di Indonesia sendiri pada tanggal 22 Nopember 1986 telah berdiri organisasi profesi — dengan pusat kedudukannya di Jakarta — yang bernama “Ikatan Sarjana Teknik industri dan Manajemen Industri” (ISTMI) yang memiliki tujuan pokok untuk mengembangkan protesi dan peranan disiplin Teknik Industri.
Perkembangan organisasi, profesi atau disiplin Teknik Industri pada dasarnya tidaklah bisa dilepaskan dan peranan lembaga pendidikan tinggi. Topik-topik yang herkaitan dengan disiplin Teknik Industri pertama kali diajarkan sebagai mata kuliah khusus adalah di Mechanical Engineering Departement, Pennsylvania State University (USA) dan Syracuse University (USA) pada sekitar tahun 1908, kecenderungan untuk menawarkan topik-topik khusus Teknik IndusiTi sehagai niata kuliah pilihan mi terus berkembang pesat sampai akhir Perang Dunia II terutama dijumpai di Departernent Teknik Mesin dan heberapa Universitas di Amerika Serikat. Kernudian setelah itu terjadi perubahan struktural dan fundamental dirnana terhentuk Departemen Teknik Industri (Industrial Engineering Departemen) yang herdiri sendiri dan terpisah dan Departernen Teknik Mesin yang ada. Sesuai dengan historis pertumbuhan dan perkernbangannya maka namanama Departemen Teknik Industni di herbagai universitas-pun juga tidak sama. Ada yang menvehut sehagai Industrial Engineering Departement, akan tetapi ada juga yang menyebutnya dengan nama lain yang lehih panjang seperti Industrial Engineering and Operation Research, Industrial Engineering and Management Science, Industrial and System Engineering and Industrial Engineering dan sebagainya. Di Eropa khususnya di Inggris atau Jerman Barat topik-topik Teknik Industri diajarkan khusus dalam satu departemen yang dinaniakan Production Engineering. Sedangkan di Indonesia heberapa perguruan tinggi — baik PTN atau PTS — menyebutnya dengan nama Teknik Industni atau Teknik dan Manajemen Industri.
Di Amerika Serikat pertumbuhan secara cepat dalam pendidikan Teknik industri terus herlangsung dan kemudian menyebar ke luar benua mi. Dan data sigi tahun 1981 program studi Teknik Industri mi ternyata berhasil menduduki ranking ke-4 di Amerika Serikat — dengan trend yang terus meningkat — didalam proses penerimaan mahasiswa baru dan kebutuhan akan Sarjana Teknik Industri (dibawah program studi Teknik Elektro, Teknik Mesin dan Teknik Sipil) seperti yang ditunjukkan tabel data berikut ini :

Catatan : Jumlah total tidak mencapai 100% karena disini masih ada sejumlhi disiplin keteknikann lainnya yang tidak dicantumkan (prosentase masing—masing kecil sekali)
(Sumber data diambil dari National Science Board, I 983)

Pendidkan Tinggi Teknologi dalam disiplin Teknik Industri masih merupakan satu hal baru dan langka dijumpai di Perguruan Tinggi di Indonesia. Meskipun banyak dijurnpai adanya jurusan/ iepartemen Teknik Industri di Perguruan Tinggi Swasta akan tetapi untuk Perguruan Tinggi Negeri sampai sekarang mi secara formal tercatat memiliki jurusan/prograrn studi Teknik Industri dapat disebutkan antara lain ITB, USU, ITS dan 1PB (yang lebih berorientasi pada sektor agrobisnis md ustri). Tumbuh dan berkembangnya disiplin Teknik Industri di Indonesia tidaklah dapat dilepaskan dan Pendidikan Iinggi Teknik Industri di Amerika Serikat. Disiplin Teknik Industri diperkenalkan pertama kali di Indonesia (ITB) pada sekitar tahun 1960- an oleh Matthias Aroef MSc.Ph.D — sekarang guru besar (profesor) — setelah yang bersangkutan selesai tugas belajar di Amenika Senikat. Beberapa mata kuliah yang mencakup konsep-konsep Teknik Industni ditawarkan pada Jurusan Teknik Produksi yang pada waktu itu merupakan salab satu pilihan keahlian di Jurusan Teknik Mesin ITB. Baru pada tahun 1971 didinikan Jurusan Teknik Industri di ITB yang terpisah dan Teknik Mesin, yang mana dan sini kemudian akan mengawali Pendidikan Tinggi Teknik Industni baik Perguruan Tinggi Negeni maupun Swasta di Indonesia. Sebagai penghormatan atas jasajasa Prof.DR. Matthias Aroef mi maka Ikatan Sarjana Teknik Industni dan Manajernen Industri (ISTMI) mengabadikan namanya dalam hentuk Matthias Aroef Award yang akan diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa mengaplikasikan dalam dan mengembangkan profesi Teknik Industri setiap tahunnya di Indonesia.
Mengingat historis pertumbuhan dan perkembangannya yang rnasih relatif muda, maka dibandingkan dengan profesi ketekuikan Iainnya — seperti Teknik Sipil misalnya, pada tahun 1920 sudah dikenal pendidikan tinggi Teknik Sipil di Indonesia (THS atau JIB sekarang) dengan alurnnusnya yang terkenal seperti Jr. Soekarno, Jr. Anwari, dan lain-lain — disiplin Teknik Industri masih belum banyak dikenal luas. Dernikian juga Sarjana Teknik Industri dan segi kuantitasnya juga masih tergolong sedikit. Dan hasil sigi yang dilaksanakan Persatuan Insinyur Indonesia (P11) pada tahun 1982 dan 26.000 Insinyur yang tercatat, ternyata hanya sekitar 525 atau 2,02% yang merniliki kualifikasi sebagai Sarjana Teknik Industri. Berikut disampaikan data mengenai jumlah Insinyur di Indonesia dan kualifikasinya berdasarkan basil survei (sigi) PII tersebut:

            Data di atas meskipun sudah tidak akurat lagi untuk dipakai pada saat sekarang mi, tetapi paling tidak bisa memberikan gambaran rnengenai posisi Teknik Industri disaat itu. Bagaimana dengan perkembangan sekarang mi ? Sebagai perbandingan hal tersebut bisa dilihat dan minat/animo dan pilihan program studi dan para calon mahasiswa yang tercatat di dua Perguruan Tinggi Negeri (ITB dan ITS) berdasarkan buku pedoman tes masuk perguruan tinggi negeri sebagai berikut:


Dari data tersebut di atas terlihat bahwa ternyata animo/minat calon rnahasiswa untuk pilihan Program Studi Teknik Industri baik di ITS maupun di ITB sudah berhasil menduduki peringkat yang tinggi, bahkan bila dilihat dengan daya tampung (50 mahasiswa/ tahun) maka terlihat persaingan akan menjadi yang paling ketat(1:30).

            Situasi yang terjadi di Indonesia yang berupa kecenderungan peminat untuk memperoich pendidikan di bidang Teknik Industri tampaknya juga sudah merupakan gejala umum yang terjadi di berbagai lembaga-lembaga pendidikan tinggi teknologi. Gambar 1.7. menunjukkan gejala yang mendukung pernyataan mi (data dalam hal ditunjukkan dengan mengambil titik awal tahun 1960). Dan titik awal 1960 mi tampak bahwa disiplin Flectrical/Electronic menunjukkan trend yang menaik secara meyakinkan. Hal tersebut bisa dikaitkan dengan adanya kemajuan bidang micro electronic, komputer dan sehagainya. Di lain pihak disiplin Teknik Industri justru memiliki laju perrnintaan yang terus bertambah secara spektakuler karena hal mi berkaitan erat dengan tuntutan yang terus rneningkat hagi industri dalarn upaya inemperbaiki produktivitas, kualitas produk ataupun daya kemampuan bersaing.

Reaksi:

2 komentar:

  1. Hi, Happy New Year! Would you please consider adding a link to my website on your page. Please email me back.

    Thanks!
    Kevin
    kevincollins1012@gmail.com

    ReplyDelete
  2. mantap,

    rakhmat.ftup22

    ReplyDelete